Setiap bulan bisa saja bermunculan startup baru di dunia entrepreneurship. Formula, business plan, target, produk dan lain sebagainya bisa saja berbeda tapi ada satu hal persamaan secara mendasar yakni para startup ini membutuhkan manajemen keuangan yang tepat agar bisa survive.

 

Steve Strauss, penulis Get Your Business Funded: Creative Methods for Getting the Money You Need, memaparkan empat kesalahan finansial yang biasanya terjadi pada startup seperti dikutip dari laman Entrepreneur.com berikut ini.

 

Meremehkan biaya memulai usaha

Menurut Strauss kesalahan yang paling sering dibuat pelaku bisnis saat merintis usahanya adalah meremehkan jumlah modal yang mereka butuhkan. Biaya usaha, repaying untuk investor dan gaji untuk para pendiri adalah area estimasi yang cenderung mengalami kesalahan. Biasanya mereka terlalu meremehkan area-area tersebut sehingga mematok ongkos yang relatif rendah. Bila dalam kenyataannya ternyata pengeluaran tersebut lebih besar maka banyak yang akan mengeluh bahwa budget mereka telah mengalami kenaikan. Dan mereka tak siap menghadapinya.

 

Gagal dalam menetapkan biaya pemasaran

Media sosial, marketing melalui surat elektronik dan serangkaian kegiatan publisitas berbiaya rendah dianggap cocok untuk memperkenalkan bisnis Anda. Tapi ketika para pemilik usaha berpikir mereka bisa melangkah dengan biaya kecil untuk promosi, mereka biasanya mengalami masalah. Strauss berkata, “Satu-satunya cara untuk maju serta memperkenalkan bisnia Anda kepada masyarakat adalah dengan marketing dan iklan atau Anda tidak akan memiliki customer sama sekali”.

 

Beberapa orang berasumsi bahwa budget untuk marketing adalah 5 persen dari pendapatan tahunan tapi menurut Strauss setiap bisnis dapat menyesuaikan budget marketing-nya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Misalnya saja, bisnis skala regional tidak bisa langsung dipatok sama dengan bisnis berskala nasional ataupun internasional. Masing-masing memiliki area marketing yang berbeda.

 

Tidak membuat anggaran untuk pajak

Pengetahuan mengenai pajak usaha sangat penting, bagi startup sekalipun. Bila pengetahuan mengenai pajak usaha ini minim, pelaku bisnis bisa meminta bantuan konsultan yang kompeten di bidangnya. Banyak pebisnis yang terperosok ketika berhubungan dengan pajak usaha ini. Banyak pebisnis startup yang tak membuat anggaran pengeluaran untuk pajak, itu adalah kesalahan besar.

 

Melakukan pengeluaran besar-besaran

Ketika memeroleh kredit usaha atau memiliki modal usaha yang cukup besar, godaan untuk memiliki kantor yang luas atau mempunyai banyak karyawan akan muncul dengan sendirinya. Menurut Strauss hal itu harus dihindari. Pembatasan dalam pengeluaran di saat merintis usaha sangat dianjurkan. Inventaris yang tak dibutuhkan seperti membeli furnitur baru misalnya, tidak perlu dilakukan di kala sedang merintis usaha.

 

“Bila ada anggaran, lebih baik dialokasikan untuk investasi jangka lama yang lebih menjanjikan bagi pertumbuhan bisnis Anda. Atau bila Anda tak ingin berinvestasi, anggaran itu bisa disimpan sebagai cadangan modal bila suatu saat diperlukan,” saran Strauss. (*/ely)

(diambil dari artikel Ciputra )